Monday, September 14, 2020

Pengertian Asbabun Nuzul Menurut Para Ulama


Kangipul.xyz - Asbabun nuzul merupakan bentuk idhofah dari kata asbab dan Nuzul. Secara etimologi, asbab an nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. 

Asbabun nuzul adalah peristiwa yang melatarbelakangi pada saat turunnya Alquran. Atau sesuatu yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat atau lebih, sebagai jawaban terhadap suatu peristiwa atau menceritakan suatu peristiwa, atau menjelaskan hukum yang terdapat dalam peristiwa tersebut.

Asbabun Nuzul Menurut Para Ulama


Asbabun nuzul dilihat dari aspek terminologi, ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yaitu:

a. Az Zarqany mendefinisikan dengan:


سبب النزول هو ما نزلت الاية او الايات متحدثة او مبينة لحكمه أيام وقوعه

sebab turun ayat ialah segala sesuatu yang oleh karenanya sepotong atau beberapa ayat diturunkan untuk membicarakan atau menerangkan hukum yang sesuatu (yang terjadi) itu pada saat terjadinya.

b. Adapun rumusan lain tentang pengertian asbabun nuzul adalah:


سبب النزول هو ما نزلت الاية او الايات متضمنة او مجينة عنها أومبينة لحكمه زمن وقوعه

sebab turun ayat adalah segala sesuatu yang oleh karenanya sepotong ayat atau beberapa ayat yang memuat sebabnya itu diturunkan untuk memberi jawaban terhadap sebabnya, atau untuk menerangkan hukumnya pada waktu terjadi peristiwa itu.
 

c. Subhi Sholih mendefinisikan asbabun nuzul dengan:


ما نزلت الاية او الايات بسببه متضمنة له او مجينة عنه أو مبينة لحكمه زمن وقوعه

Sesuatu yang dengan sebabnya lah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya, pada masa terjadinya peristiwa itu.

definisi ini memberikan pengertian bahwa sebab turunnya suatu ayat ada kalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan. suatu ayat atau beberapa ayat turun untuk menerangkan hal yang berhubungan dengan peristiwa tertentu atau memberi jawaban terhadap pertanyaan tertentu.

d. Manna al Qathan mendefinisikan asbabun nuzul dengan:


ما نزل قرأن بشأنه وقت وقوعه كحادثة أو سؤال

Asbabun nuzul adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya Alquran, berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi.

e. Az Zarqani

Asbabun nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat Alquran yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.

f. Ash Shabuni (1390 H) 

Menjelaskan bahwa asbabun nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.


Sikap Sahabat-Ulama Terhadap Asbabun Nuzul


Berangkat dari definisi asbabun nuzul yang dikemukakan oleh para ulama di atas, membawa kepada pembagian ayat-ayat Alquran kepada dua kelompok, yaitu:

  1. Pertama kelompok ayat yang turun tanpa sebab,
  2. Kedua adalah kelompok yang turun dengan sebab tertentu.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa tidak semua ayat harus mempunyai sebab turunnya. Bahkan banyak ayat menyangkut keimanan, kewajiban, dan syariat agama turun tanpa sebab an-Nuzul.

Ayat-ayat Alquran yang turun tidak ber sebab jumlahnya lebih besar, dibanding dengan ayat-ayat yang turun karena sebab-sebab tertentu yang relatif sedikit jumlahnya. Ayat-ayat yang turun tidak ber sebab, pada umumnya berkisar pada ayat-ayat yang mengisahkan hal ihwal umat-umat terdahulu beserta para nabi mereka,atau yang mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau atau yang menerangkan hal-hal yang gaib, hal-hal yang tidak pasti, atau yang menggambarkan keadaan hari kiamat, tentang nikmat surga dan siksa neraka.

Ayat-ayat yang demikian diturunkan bukan memberi jawaban atas suatu pertanyaan atau peristiwa yang terjadi, melainkan semata-mata untuk dijadikan petunjuk bagi manusia.Oleh karena itu tidak benar dugaan sebagian ulama, bahwa setiap ayat Alquran turun dengan Asbabun nuzulnya sendiri. Ayat yang turun bersebab relatif sedikit, umumnya berkisar ayat ahkam dan ibadah.

Para ulama sangat serius mempelajari Asbabun Nuzul, perhatian mereka muncul dalam tiga bentuk, yaitu:

  1. Mereka mengkhususkan asbabun nuzul sebagai salah satu bab yang berdiri sendiri dalam ulumul Quran, pada karya-karya mereka.
  2. Pada ahli tafsir mendahulukan asbabun nuzul jika memang ada sebab-sebab turunnya dalam menafsirkan ayat. Mereka serius dan menyandarkan penafsiran kepada Asbabun Nuzul.
  3. Para ulama yang mengkhususkan asbabun nuzul dalam karya-karya tersendiri. Karya yang pertama adalah kitab karya 'Ali bin al Madini (w. 324 H), dan kemudian diikuti: 
    • (a) Abdurrahman bin Muhammad, terkenal dengan Mathraf al Andalusi - Sutra Andalusia (w. 402 H), menulis Kitab al-Qishash wa al Asalib al lati Nazala min Ajliha al Qur'an. 
    • (b) Abu al-hasan Ali bin Ahmad bin naisaburi (w. 468 H), nama kitabnya asbab an Nuzul. 
    • (c) Ibnu Al jauzi (w. 597 H) nama karyanya asbab an nuzul Alquran. 
    • (d) Ibnu Hajar Al Asqalani (w. 852 H) dengan kitab Al Ujap fi Bayan Al Asbab. 
    • (e) As Suyuthi (w. 911 H) menulis Kitab Lubab An Nuqul fi Asbab an Nuzul.

Ulama salaf sangat berhati-hati dalam menerima dan meriwayatkan asbab an Nuzul. Muhammad bin sirin (w. 110 H) sebagaimana dikutip Jalaluddin As-Suyuthi dalam al Itqan fi 'Ulum Al Quran berpendapat:

سألت عبيدة عن اية من القرأن فقال اتق الله وقل سدادا دهب الذين يعلمون فيما انزل الله من القرأن

Aku bertanya kepada Ubaidah tentang suatu ayat Alquran. Iya menjawab : "bertakwalah kepada Allah dan katakanlah yang benar. Telah pergi orang-orang yang mengetahui tentang hal kepada siapa ayat itu diturunkan.

Kewara'an dan kehati-hatian semacam ini tidak sampai menghalangi mereka untuk menerima riwayat sahabat dalam masalah Asbabun Nuzul. Karena itu mereka (ulama salaf), sebagaimana di sitir Subhi Shalih dalam Mabahits fi 'Ulum al Qur'an, berkata:

ان قول الصحابي فيما لا مجال للرأي والاجتهاد فيه، بل عمدته النقل والسماع محمول على سماعه من النبي صلى الله عليه وسلم لانه يبعد جدا ان يقول ذلك من تلقاء نفسه

Sesungguhnya perkataan seorang sahabat tentang sesuatu yang tak dapat dijangkau dengan nalar dan ijtihad, tetapi dasarnya adalah periwayatan dan pendengaran, dipahami bahwa sahabat itu mendengar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebab,sulit sekali diterima akal bahwa sahabat mengatakan yang demikian dari pendapatnya sendiri.

Al Wahidi sebagaimana dikutip Jalaluddin as suyuthi dalam Al itqon fi ulum al-qur'an menyatakan:

لا يحل القول في اسباب نزل الكتاب الا بالرواية والسماع ممن شاهدوا التنزيل ووقفوا على الاسباب وبحثوا عن علمها

Tidak boleh memperkatakan tentang sebab-sebab turun Alquran melainkan dengan dasar riwayat dan mendengar dari orang-orang yang menyaksikan ayat itu diturunkan atau mengetahui sebab-sebab turunnya serta membahas pengertiannya.

Dapat disimpulkan bahwa asbabun Nuzul yang diriwayatkan dari seorang sahabat diterima sekalipun tidak dikuatkan dan didukung oleh riwayat yang lain. Adapun asbabun nuzul dengan hadits Mursal, yaitu hadits yang gugur dari sananya seorang sahabat dan mata rantai periwayatnya hanya sampai kepada seorang Tabi'in, maka riwayat seperti ini tidak diterima kecuali sanadnya shohih dan dikuatkan oleh hadits Mursal lainnya.
 

Ilmu Asbabun Nuzul


Ilmu asbabun nuzul adalah ilmu yang mempelajari latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat diturunkan.

ما نزلت الاية او الايات بسببه

Atau ilmu yang bertugas mengungkapkan kejadian-kejadian historis serta peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi turunnya nash Alquran. Tinjauan terhadap Alquran, mengetahui mana ayat yang turun terlebih dahulu dan mana yang belakangan, ayat mana yang berkenaan dengan sebab tertentu yang mendahuluinya, ayat mana yang menjadi sebab tertentu, mana yang merupakan tanggapan terhadap nya, atau menjelaskan hukumnya, apakah Ayat tersebut harus dipahami berdasarkan keumuman artinya ataukah kekhususan sebab turunnya, jangkauan pertimbangan terhadap realitas ayat seperti apa adanya dan situasi serta kondisi yang menyertainya, kejadian dan siapa siapa orang yang terlibat di dalamnya, semua ini dijelaskan dan dikaji dalam ilmu Asbabun Nuzul.

Ungkapan Asbabun Nuzul


Beberapa ungkapan untuk menunjukkan sebab turunnya Alquran (Asbabun Nuzul) yaitu:

1. Asbabun nuzul disebutkan dengan ungkapan yang jelas, contohnya:

سبب نزول هذه الاية كذا

"Sebab turun ayat ini demikian"

Ungkapan ini secara definitif menunjukkan sebab nuzul dan tidak mengandung kemungkinan makna lain.

2. Asbabun nuzul tidak ditunjukkan dengan lafal sabab, tetapi dengan mendatangkan lafal "ف" yang masuk ke pada ayat yang dimaksud secara langsung setelah pemaparan suatu peristiwa atau kejadian. Ungkapan seperti ini juga menunjukkan bahwa peristiwa itu adalah sebab lagi turunnya ayat tersebut.

Misalnya ialah asbabun nuzul yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir. Jabir berkata: "Orang-orang Yahudi berkata : "Barangsiapa yang menggauli istrinya pada kubulnya dari arah duburnya, anaknya akan lahir dalam keadaan juling", maka Allah menurunkan ayat:

pengertian asbabun nuzul menurut para ulama, pengertian asbabun nuzul dan contohnya, pengertian asbabun nuzul menurut ulama, asbabun nuzul adalah,

3. Asbabun nuzul dipahami secara pasti dari konteksnya. Dalam hal ini, Rasul ditanya orang,maka ia diberi Wahyu dan menjawab pertanyaan itu dengan ayat yang baru diterimanya. Para mufassir tidak menunjukkan sebab turunnya dengan lafal asbabun nuzul dan tidak dengan mendatangkan "ف". Akan tetapi Asbabun nuzulnya dipahami melalui konteks dan jalan ceritanya, seperti sebab turunnya ayat tentang ruh yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud.

4. Asbabun nuzul tidak disebutkan dengan ungkapan sebab secara jelas, tidak dengan mendatangkan "ف" yang menunjukkan sebab,dan tidak pula berupa jawaban yang dibangun atas dasar pertanyaan. Akan tetapi dikatakan :


نزل هذه الاية في كذا

Ungkapan seperti ini tidak secara definitif menunjukkan sebab, tetapi ungkapan ini mengandung makna sebab dan makna lainnya, yaitu tentang hukum kasus atau persoalan yang sedang dihadapi.

Contohnya ialah hadits riwayat muslim dari Jabir tentang sebab turunnya ayat :

نساؤكم حرث لكم

Riwayat Al Bukhari dari Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata, ayat :

نساؤكم حرث لكم

Diturunkan pada (masalah) mendatangi (menggauli) perempuan-perempuan pada dubur mereka. Menurut Al Zarqany, yang menjadi pegangan dalam menerangkan sebab turun ayat tersebut adalah riwayat Jabir, karena riwayatnya bersifat naqli dan jelas menunjukkan sebab. Sedangkan riwayat Ibnu Umar merupakan istinbath (penggalian hukum) dan dipahamkan sebagai penjelasan bagi hukum mendatangi (menggauli) istri istri pada dubur mereka, yaitu haram.
 

Asbabun Nuzul Dan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 19-20

asbabun nuzul al baqarah ayat 19-20, al baqarah ayat 19 latin, al baqarah ayat 20, penjelasan al baqarah 19, asbabun nuzul al baqarah ayat 195, asbabun nuzul al baqarah ayat 196, asbabun nuzul al baqarah ayat 191, asbabun nuzul al baqarah ayat 198, asbabun nuzul al baqarah ayat 197, asbabun nuzul ali imran ayat 190-191, asbabun nuzul surat al baqarah ayat 19, asbabun nuzul al baqarah 191, asbabun nuzul ali imran ayat 195
Asbabun Nuzul Dan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 19-20

Kemarin kita sudah membahas tentang Asbabun nuzul surat Al-Baqarah ayat 14, maka searang kita akan membahas lanjutan dari ayat diatas yakni tentang Asbabun Nuzul Dan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 19-20. Penyajian kali ini saya buat dengan Tafsirnya dengan tujuan agar pembaca lebih mudah memahami alurnya dan sebagai tambahan untuk mencari referensi untuk bahan materi di sekolah.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 19-20

Berikut ini adalah kutipan Surat Al-Baqarah ayat 19-20, terjemahan, dan tafsirnya: 

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (19) يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)

"Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu."

Ayat ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah Swt. yang menggambarkan keadaan orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang lahiriahnya kadangkala menampakkan Islam, dan kadangkala di lain waktu mereka ragu terhadapnya. Hati mereka yang berada dalam keraguan, kekufuran, dan kebimbangan itu diserupakan dengan sayyib; makna sayyib ialah hujan. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan sejumlah sahabat; juga menurut Abu Aliyah, Mu-jahid, Sa'id ibnu Jubair, Ata, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Atiyyah, Al-Aufi, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.

Menurut Ad-Dahhak, makna sayyibun adalah awan.

Tetapi menurut pendapat yang terkenal, artinya hujan yang turun dari langit. Dalam keadaan gelap gulita maksudnya keraguan, kekufuran, dan kemunafikan; sedangkan maksud dari suara guruh ialah rasa takut yang mencekam hati, mengingat orang munafik itu selalu berada dalam ketakutan yang sangat dan rasa ngeri, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman Lainnya, yaitu:

يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al-Munafiqun: 4)

{وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ * لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ}

Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golongan kalian; padahal mereka bukanlah dari golongan kalian, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepada kalian). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya. (At-Taubah: 56-57)

Al-barqu artinya kilat, sedangkan yang dimaksud ialah suatu hal yang berkilat di dalam hati golongan orang-orang munafik sebagai pertanda cahaya iman, hanya dalam waktu sebentar dan sekali-kali. Karena itu, Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:

{يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ}

mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 19)

Dengan kata lain, tiada gunanya sama sekali sikap waspada mereka, karena Allah dengan kekuasaan-Nya Maha Meliputi; mereka berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya, sebagaimana yang dikatakan di dalam firman-Nya:

{هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ * فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ * بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ * وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ}

Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yakni kaum) Fir'aun dan (kaum) Sarnud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. (Al-Buruj: 17-20)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan, "Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena sifat cahaya kilat tersebut kuat dan keras, sedangkan pandangan mata mereka (orang-orang munafik) lemah, dan hati mereka tidak mantap keimanannya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Yakadul barqu yakhtafu absarahum" artinya "hampir-hampir ayat-ayat muhkam Al-Qur'an membuka kedok orang-orang munafik".

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena kuatnya cahaya kebenaran.”Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; bila gelap gulita menimpa mereka, mereka berhenti." Manakala muncul seberkas cahaya iman di dalam diri mereka, lalu mereka merasa kangen dan mengikutinya, tetapi di lain waktu muncul keraguan yang membuat hati mereka gelap dan berhenti dalam keadaan kebingungan.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi," artinya "manakala orang-orang munafik itu beroleh manfaat dari kejayaan Islam, mereka merasa tenang; tetapi bila Islam tertimpa cobaan, mereka bangkit kembali kepada kekufuran", sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.:

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ [وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ] }

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu; dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. (Al-Hajj: 11)

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi, wa iza azla-ma 'alaihim qamu" artinya "manakala mereka mengetahui perkara yang hak dan membicarakannya, hal ini dimengerti melalui percakapan mereka berada dalam jalan yang lurus. Tetapi manakala mereka berbalik dari iman menjadi kafir, mereka berhenti, maksudnya kebingungan. Demikianlah takwil Abul Aliyah, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddu berikut sanadnya, dari sejumlah sahabat. Pendapat inilah yang paling sahih dan paling kuat.

Demikianlah keadaan orang-orang munafik kelak di hari kiamat, yaitu di saat manusia diberi nur sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Di antara mereka ada orang yang diberi nur yang dapat menerangi perjalanan yang jaraknya berpos-pos buatnya, bahkan lebih dari itu atau kurang dari itu. Di antara mereka ada yang nur-nya kadangkala padam dan kadangkala bercahaya. Di antara mereka ada yang dapat berjalan di atas sirat di suatu waktu, sedangkan di waktu lainnya dia berhenti. Di antara mereka ada yang nur-nya padam (tidak menyala) sama sekali, mereka adalah orang-orang munafik militan yang digambarkan oleh firman-Nya:

{يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا}

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya kalian." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian)." (Al-Hadid: 13)

Sehubungan dengan orang-orang mukmin di hari kiamat nanti, Allah Swt. menceritakan perihal mereka melalui firman-Nya:

{يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ}

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (Al-Hadid: 12)

Dalam firman lainnya Allah Swt. mengatakan:

{يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dia; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (At-Tahrim: 8)

Sa'id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya:

{يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ}

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, hingga akhir ayat. (Al-Hadid: 12)

Disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

"مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى عَدَنَ، أَوْ بَيْنَ صَنْعَاءَ وَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّى إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ لَا يُضِيءُ نُورُهُ إِلَّا مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ"

Di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya dapat menyinari sejauh antara Madinah sampai 'Adn yang lebih jauh dari San'a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga sesungguhnya di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya hanya dapat menyinari tempat kedua telapak kakinya saja.

Hadis riwayat Ibnu Jarir, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Imran ibnu Daud Al-Qattan, dari Qatadah hadis yang semisal.

Hadis ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang me-ngatakan bahwa kepada mereka diberikan cahaya yang sesuai dengan amal perbuatan masing-masing; di antara mereka ada yang diberi cahaya seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang lelaki berdiri, se-dangkan yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah sebesar ibu jari, terkadang padam dan terkadang menyala. Begitu pula menurut riwayat Ibnu Jarir, dari Ibnu Musanna, dari Ibnu Idris, dari ayahnya, dari Al-Minhal.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris yang pernah mendengar dari ayahnya yang menceritakan dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firmannya: sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (At-Tahrim: 8)  Yakni sesuai dengan kadar amal perbuatan masing-masing. Mereka melewati sirat, di antara mereka ada yang cahayanya semisal gunung, ada pula yang seperti pohon kurma, dan orang yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah yang sebesar ibu jarinya, adakalanya bercahaya dan adakalanya padam.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Uqbah ib-nul Yaqzan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tiada seorang pun dari kalangan ahli tauhid melainkan diberi cahaya di hari kiamat kelak. Orang munafik cahayanya padam, orang muk-min merasa kasihan melihat orang-orang munafik padam cahayanya, lalu orang-orang mukmin berkata, "Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."

Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan, setiap orang yang menampakkan keimanan di dunia kelak di hari kiamat akan diberi cahaya. Tetapi bila sampai di sirat, maka padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang mukmin melihat hal itu, mereka merasa kasihan, lalu berkata, "Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."

Berdasarkan pengertian ini, maka manusia itu terbagi menjadi beberapa macam: Pertama, yang mukmin secara murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut pada keempat ayat dari permulaan surat Al-Baqarah. Kedua, orang-orang kafir murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut dalam dua ayat berikutnya. Ketika orang-orang munafik terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik militan —yang dibuat perumpamaan api bagi mereka— dan orang-orang munafik yang masih terombang-ambing dalam kemunafikannya. Adakalanya tampak bagi mereka berkas sinar iman, dan terkadang sinar iman padam dalam diri mereka; mereka adalah orang-orang yang diumpamakan dengan air hujan. Golongan yang terakhir ini lebih ringan daripada golongan sebelumnya.

Perumpamaan mengenai diri seorang mukmin ini ditinjau dari berbagai segi, mirip dengan apa yang disebut di dalam surat An-Nur, yaitu tentang apa yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbunya berupa hidayah dan cahaya. Hal ini diserupakan dengan pelita yang berada di dalam kaca, sedangkan kaca tersebut seakan-akan bintang mutiara yang bercahaya dengan sendirinya. Demikianlah keadaan kalbu orang mukmin yang dijadikan secara fitrah beriman dan mendapat siraman dari syariah yang jernih secara langsung menyentuhnya tanpa kekeruhan dan tanpa ada campuran, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti pada tempatnya, insya Allah.

Kemudian Allah membuat perumpamaan buat hamba-hamba yang kafir, yaitu mereka yang menduga bahwa diri mereka beroleh suatu manfaat, padahal tiada suatu manfaat pun yang mereka peroleh. Mereka adalah orang-orang yang jahil murakkab, sebagaimana yang disebut di dalam firman-Nya:

{وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا}

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (An-Nur. 39)

Kemudian Allah Swt. membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir yang kebodohannya tidak terlalu parah. Mereka adalah orang-orang yang disebut di dalam firman-Nya:

{أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ}

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya; (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (An-Nur: 40)

Berdasarkan hal ini orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutan, sebagaimana keduanya disebut di dalam permulaan surat Al-Hajj melalui firman-Nya:

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ}

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat. (Al-Hajj: 3)

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُنِيرٍ}

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al-Hajj: 8)

Allah telah mengklasifikasikan orang-orang mukmin pada permulaan surat Al-Waqi'ah dan bagian akhirnya, sedangkan di dalam surat Al-Insan mereka terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang-orang yang terdahulu mereka adalah golongan orang-orang muqarrabin (dekat dengan Allah); dan golongan as-habul yamin, yaitu orang-orang yang bertakwa.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang-orang mukmin itu terdiri atas dua golongan, yaitu orang-orang yang dekat dengan Allah dan orang-orang yang bertakwa. Orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua golongan, yaitu orang-orang kafir militan dan orang-orang kafir muqallid (ikut-ikutan). Orang-orang munafik pun terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik militan dan munafik dari salah satu seginya saja, sebagaimana yang disebut di dalam kitab Sahihain melalui Abdullah ibnu Amr, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

"ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعها: مَنْ إِذَا حَدّث كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ"

Ada tiga perkara, barang siapa menyandang ketiganya, maka dia adalah orang munafik militan; dan barang siapa yang menyandang salah satunya, maka di dalam dirinya terdapat suatu pekerti munafik hingga ia meninggalkannya. Yaitu orang yang apabila berbicara berdusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.

Berdasarkan hadis ini para ulama menyimpulkan bahwa di dalam diri seseorang itu adakalanya terdapat suatu cabang dari iman dan suatu cabang dari sifat munafik, yang dalam realisasinya adakalanya berupa amali (perbuatan) berdasarkan hadis ini, atau berupa i'tiqadi (keyakinan) berdasarkan apa yang telah ditunjukkan oleh ayat tadi. Demikian pendapat segolongan ulama Salaf dan sejumlah ulama yang telah disebut di atas.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِي شَيْبَانَ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ: قَلْبٌ أَجْرَدُ، فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يُزْهر، وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غِلَافِهِ، وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ، وَقَلْبٌ مُصَفَّح، فَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَجْرَدُ فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ، سِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَغْلَفُ فَقَلْبُ الْكَافِرِ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ الْخَالِصِ، عَرَفَ ثُمَّ أَنْكَرَ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصَفَّحُ فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ، ومَثَل الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ، يَمُدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ، وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدّها الْقَيْحُ وَالدَّمُ، فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى الْأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah (yakni Syaiban), dari Lais, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Sa'id yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

Kalbu (manusia) itu ada empat macam, yaitu kalbu yang jernih, bagian dalamnya seperti pelita yang bercahaya, kalbu yang terbungkus dalam keadaan terikat oleh pembungkusnya, kalbu yang layu, dan kalbu yang terlapisi. Adapun kalbu yang jernih ialah kalbu orang mukmin, sedangkan pelita yang di dalam adalah cahayanya. Adapun kalbu yang terbungkus ialah (perumpamaan) kalbu orang kafir, sedangkan kalbu yang layu ialah kalbu orang munafik murni (militan); pada mulanya mengetahui (perkara yang hak), kemudian mengingkarinya. Kalbu yang terlapisi ialah kalbu yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di dalam kalbu adalah seperti sayuran yang selalu diberi air yang baik, sedangkan perumpamaan nifaq adalah seperti luka yang selalu mengeluarkan nanah dan darah. Maka yang mana pun di antara kedua benda yang diperumpamakan itu lebih kuat daripada yang lainnya, berarti ia dapat mengalahkannya.

Hadis ini berpredikat jayyid lagi hasan. Allah SWT telah berfirman:

{وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ}

Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 20)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa demikian itu terjadi setelah mereka mengetahui perkara hak, lalu mereka meninggalkannya.

Innallaha 'ala kulli syaiin qadir, menurut Ibnu Abbas artinya 'bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa terhadap semua hal yang di-kehendaki-Nya atas hamba-hamba-Nya berupa pembalasan atau ampunan'.

Ibnu Jarir mengatakan, sesungguhnya Allah Swt. menyifati diri-Nya dengan sifat Kuasa terhadap segala sesuatu dalam hal ini, karena Dia bertindak memperingatkan terhadap orang-orang munafik akan azab dan siksanya. Allah memberitakan kepada mereka bahwa Dia Maha Meliputi mereka dan Mahakuasa untuk menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Makna lafaz qadir adalah qadir, sama halnya dengan lafaz 'alim bermakna 'alim.

Ibnu Jarir dan orang-orang yang mengikutinya dari kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa kedua perumpamaan yang dibuat oleh Allah ini menggambarkan keadaan suatu golongan dari orang-orang munafik. Dengan demikian, berarti huruf au yang terdapat di dalam firman-Nya, "Au kasayyibim minas sama," bermakna wawu. Perihalnya sama dengan yang terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:

{وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا}

Dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al-Insan: 24)

Atau huruf au ini bermakna takhyir (pilihan), dengan kata lain 'aku buatkan perumpamaan ini bagi mereka atau jika kamu suka perumpamaan lainnya'.

Imam Qurtubi mengatakan bahwa huruf au di sini menunjukkan makna tasawi (persamaan atau pembanding), misalnya dikatakan: "Bergaullah kamu dengan Al-Hasan atau Ibnu Sirin." Demikian yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari, yaitu masing-masing dari keduanya memiliki persamaan dengan yang lain dalam hal boleh bergaul. Dengan demikian, berarti makna ayat menunjukkan mana saja di antara perumpamaan ini atau yang lainnya untuk menggambarkan mereka dinilai sesuai dengan keadaan mereka.

Menurut kami, perumpamaan ini dikemukakan berdasarkan jenis orang-orang munafik, karena sesungguhnya mereka terdiri atas berbagai macam tingkatan dan memiliki keadaan serta sifat masing-masing, sebagaimana yang disebut di dalam surat Bara-ah (At-Taubah) dengan memakai ungkapan waminhum (dan di antara mereka) secara berulang-ulang. Setiap kali disebut lafaz waminhum, dijelaskan keadaan dan sifat-sifat mereka, ciri khas perbuatan serta ucapan mereka. Maka menginterpretasikan kedua perumpamaan ini buat dua golongan di antara mereka (orang-orang munaflk) lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan sifat-sifat mereka.

Allah Swt. telah membuat dua perumpamaan bagi dua jenis orang-orang kafir —yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutan— melalui firman-Nya di dalam surat An-Nur, yaitu:

{وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ}

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. (An-Nur: 39)

{أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ}

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam. (An-Nur: 40)

Perumpamaan yang pertama ditujukan untuk orang kafir militan, yaitu mereka yang jahil murakkab (mereka tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu); sedangkan yang kedua ditujukan untuk orang kafir yang kebodohannya tidak terlalu parah, yaitu mereka dari kalangan para pengikut dan yang membebek kepada para pemimpinnya.

(Sumber: ibnukatsironline.com)

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 19

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur as-Suddi al-Kabir dari Abu Malik dan Abu Shaleh dari Ibnu Abbas dan dari Murrah dari Ibnu Mas'ud dari sejumlah sahabat, mereka berkata. "Dulu ada dua orang munafik penduduk Madinah melarikan diri dari Rasulullah menuju tempat orang-orang musyrik. Diperjalanan hujan lebat mengguyur mereka. Hujan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Allah swt. bahwa di dalamnya tedapat petir yang dahsyat dan kilat yang menyambar-nyambar. 

Setiap kali petir menggelegar, mereka menutupkan jari-jari mereka ke telinga merekaa karena takut suara petir itu masuk ke gendang telinga mereka dan membunuh mereka. Dan ketika sinar kilat berkelebat, mereka berjalan menuju cahayanya. 

Jika tidak ada cahaya kilat, mereka tidak dapat melihat apa-apa. Lalu keduanya kembali pulang ke tempat mereka, dan keduanya berkata,"'$eandainya saat ini pagi sudah tiba, tentu kita segera menemui Muhammad, lalu kita menyerahkan tangan kita ke tangan beliau! Kemudian ketika pagi tiba, keduanya menemui beliau, lalu masuk Islam dan menyerahkan tangan mereka ke tangan beliau. Setelah itu keduanya menjadi muslim yang baik. Lalu Allah keadaan kedua munafik itu sebagai perumpamaan bagi orang-orang munafik yang ada di Madinah.

Setiap kali orang-orang munafik Madinah tersebut menghadiri majelis Nabi Muhammad SAW., Mereka meletakkan jari-jari mereka di telinga karena takut mendengar jika ada wahyu yang turun yang berkenaan dengan mereka atau mereka diingatkan dengan sesuatu yang bisa membuat mereka mati ketakutan. Hal ini sebagaimana dua orang munafik tadi yang menutupkan jari-jari mereka ke telinga mereka.

"... Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu,..." (Al-Baqarah: 20)

Jika orang-orang muslim mempunyai harta dan anak-anak yang banyak, serta mendapatkan ghanimah atau kemenangan, mereka ikut di dalamnya dan berkata, "Sesungguhnya agama Muhammad SAW. saat ini adalah benar." Maka mereka pun istiqamah di dalamnya, sebagaimana dua orang munafik tersebut yang berjalan di bawah sinar kilat setiap kali sinarnya menyinari.

"...dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti..." (Al-Baqarah: 20)

Jika harta dan anak-anak orang-orang muslim sedikit, dan mereka tertimpa kesulitan, mereka pun berkata, "Ini karena agama Muhammad." Maka, mereka pun keluar dari Islam (murtad) dan menjadi orang-orang kafir, sebagaimana dikatakan dua orang Munafik tersebut di atas, ketika kilat tidak menyinari mereka.


(Sumber: Asbabun Nuzul; Sebab Turunnya Ayat Al-Quran oleh asbabun nuzul ali imran ayat 195
Jalaluddin As-Suyuthi)

Friday, September 4, 2020

Tafsir Dan Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 14


asbabun nuzul surat al baqarah ayat 14, asbabun nuzul, sebab turunnya albaqarah 14, albaqarah 14
Tafsir Dan Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 14
Tafsir Dan Asbabun Nuzul Surat Al Baqarah Ayat 14, karena kemarin kita sudah membahas tentang Asbabun Nuzul surat Al Baqarah Ayat 6, maka sekarang kita akan membahas Asbabun Nuzul Surata Al Baqarah Ayat 14 berikut tafsiran dari Ibnu Katsir.

QS. Al-Baqarah Ayat 14:


وَاِ ذَا لَقُوْا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَا لُوْاۤ اٰمَنَّا ۚ وَاِ ذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَا لُوْاۤ اِنَّا مَعَكُمْ ۙ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 14)

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah 2: Ayat 14


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Apabila orang-orang munafik bersua dengan orang-orang mukmin, mereka berkata, 'Kami beriman'." Mereka menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin. Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat bagian ganimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.

Bilamana mereka kembali bersama setan-setannya. Makna yang dimaksud ialah bilamana mereka kembali dan pergi dengan setan-setan mereka tanpa ada orang lain. Lafaz khalau mengandung makna insarafu, yakni kembali, karena ia muta'addi dengan huruf ila untuk menunjukkan fi'il yang tidak disebutkan dan yang disebutkan. Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa ila di sini bermakna ma'a, yakni "apabila mereka berkumpul bersama setan mereka tanpa ada orang lain". Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik, yaitu yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir.

As-Saddi mengatakan dari Abu Malik, khalau artinya pergi menuju setan-setan mereka. Syayatin artinya pemimpin dan pembesar atau kepala mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin-pemimpin kaum musyrik dan kaum munafik. As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, bahwa yang dimaksud dengan setan-setan mereka dalam firman-Nya, "Wa iza khalau ila syayatinihim," ialah para pemimpin kekufuran mereka.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah apabila mereka kembali kepada teman-temannya. Teman-teman mereka disebut setan-setan mereka.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka," yakni yang terdiri atas kalangan orang-orang Yahudi, yaitu mereka yang menganjurkannya untuk berdusta dan menentang apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam

Mujahid mengatakan bahwa makna syayatinihim ialah teman-teman mereka dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik.

Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan syayatinihim ialah para pemimpin dan para panglima mereka dalam kemusyrikan dan kejahatan. Hal yang semisal dikatakan pula oleh Abu Malik, Abul Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa syayatin artinya segala sesuatu yang membangkang. 

Qalu inna ma'akum, mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami bersama kalian." Menurut Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa maknanya ialah "sesungguhnya kami sependirian dengan kalian". Innama nahnu mustahziun, sesungguhnya kami hanya mengajak mereka dan mempermainkan mereka.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok dan mengejek teman-teman Muhammad." Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas dan Qatadah.

Asbabun Nuzul QS. Al-Baqarah Ayat 14


Diriwayatkan dari Al Wahidi dan Ats-Tsa'labi* dari jalur Muhammad bin Marwan dan As-Suddi* dari Al-Kalbi* dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas ra. berkata, "ayat ini turun pada Abdullah bin ubay dan sahabat-sahabatnya yaitu ketika mereka pada suatu hari sedang keluar dan bertemu dengan sebagian shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Abdullah bin Ubay berkata,* "lihatlah bagaimana aku menghindarkan kalian dari As-Sufaha*," kemudian ia menghampiri Abu bakar radhiallahu Anhu dan memegang tangannya dan berkata, “Selamat datang wahai Ash-Shiddiq. orang terhormat dari Bani Tamim, Syaikhul Islam, pendamping Rasulullah di dalam gua, pejuang dengan jiwa dan raganya untuk Rasulullah.“ Kemudian ia memegang tangan Umar bin Al-Khaththab ra. dan berkata, “Selamat datang wahai orang terpandang dari Bani Addi bin Ka’ab, Al Faruq, orang kuat dalam agama Allah, pejuang dengan jiwa dan raga untuk Rasulullah.” Kemudian memegang tangan Ali bin Abi Thalib & dan berkata. “Selamat datang wahai anak paman Rasulullah dan Khatan* beliau, orang terpandang dari Bani Hasyim dan tidak pernah meninggalkan Rasulullah ”, kemudian mereka saling berpisah. 

Kemudian Abdullah bin Ubay berkata kepada para sahabatnya, “Bagaimana kalian melihat tadi yang aku lakukan? Maka, jika kalian bertemu dengan mereka, maka lakukanlah seperti apa yang aku lakukan tadi.” Dan, para sahabatnya memujinya. Kemudian orang-orang Muslim kembali kepada Rasulullah dan memberitahukannya apa yang telah terjadi, kemudian ayat ini turun*. Sanad ini sangat lemah karena terdapat As-Suddi kecil adalah seorang pembohong, begitu juga Al-Kalbi, dan Abu Shalih juga yang lemah. 

Catatan:
* Ats-Tsa'labi, beliau adalah Abu Ishaq an-Naisaburi penulis buku tafsir Al Kasyaf wal Bayan 'an Tafsir Al-Qur'an.
* As-Suddi, "Pembohong" seperti yang disebutkan oleh Al Hafidz dalam At-Taqrib, Muhammad bin Marwan adalah as-Suddi senior yang biasa dikenal dengan nama Ibnu Abi Karimah dan ia Shaduq seperti yang disebutkan oleh Al-Hafidz dalam kitab At-Taqrib hal. 108, dan wafat pada tahun 127 H.
* Al-Kalbi bernama Muhammad bin As-Saib bin Bisyr Al-Kalbi, Al-Hafizh mengatakan dalam kitab at-Taqrib, " tertuduh sebagai seorang pembohong dan Syi'ah Rofidhoh," Oleh karena itu, sanad ini sangat dhaif. Lihat juga Tafsir ath-Thabari (1/109).
* Pemimpin para orang munafik di kota Madinah, memperlihatkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran nya. Perannya dalam melawan Islam sangat masyhur wafat pada tahun 9 H.
* Orang-orang bodoh.
* Suami dari anak perempuan atau suami dari saudari perempuan.

Demikian pembahasan tentang Tafsir dan Asbabun Nuzul Surat Albaqarah Ayat 14. Semoga bermanfaat.

SUMBER:
Asbabun Nuzul: Sebab-sebab turunnya ayat Alquran oleh Imam As-Suyuthi.

Thursday, September 3, 2020

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 6

asbabun nuzul surat al-baqarah ayat 6 asbabun nuzul surat al-baqarah ayat 6-7 asbabun nuzul surat al-baqarah tafsir surat al-baqarah ayat 6
Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 6

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 6Ditakhrij oleh Al Firyabi dan Ibnu Jarir dari Mujahid ia berkata, "4 ayat dari awal surat Al Baqarah turun dalam perkara orang-orang Mukmin 2 ayat turun dalam perkara orang-orang kafir dan 13 ayat turun dalam perkara orang-orang munafik."*

*Ayat-ayat yang turun dalam perkara orang mukmin 2-5, dalam perkara orang kafir 6-7, dan perkara orang munafik 8-20. Lihat tafsir Ibnu Katsir juz 1 halaman 83 dan ia berkata, "Yang meriwayatkannya lebih dari satu orang dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dan mengucapkan apa yang diucapkan Mujahid.

Surat Al-Baqarah Ayat 6, Firman Allah SWT:


اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 6)

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 6 (Kemenag)


Tafsir Ringkas Kemenag


Sebagai kebalikan dari sikap orang mukmin terhadap Al-Qur'an, sesungguhnya orang-orang kafir yang menutupi hati dan akal pikiran mereka dari kebenaran karena enggan dan sombong, tidak akan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan, berupa ancaman siksa dari Tuhanmu, atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman sebab mereka lebih memilih jalan kebatilan.

Orang kafir ialah orang yang tidak beriman kepada Allah, sebagaimana yang diperintahkan-Nya. Kafir, jamaknya kuffar, yaitu orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan hari kiamat. Di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa orang-orang kafir, yaitu Ahli Kitab dan orang-orang musyrik, yang sangat ingkar kepada Rasulullah saw; mereka tidak akan beriman walaupun diberi peringatan yang disertai dengan ancaman. Bagi mereka sama saja, apakah mereka diberi peringatan keras atau tidak.

Sebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 6)


Diriwayatkan dari lbnu Jarir dari jalur lbnu lshaq dari Muhammad bin Abu Muhammad dari Ikrimah atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ra dalam firman Allah. “sesungguhnya orang-orang kafir" ayat ini turun pada orang Yahudi Madinah'.*

*Alqurthubi berkata, "para ulama berbeda pandangan dalam penampilan ayat ini. Maka ada yang berpandangan, ayat ini umum dan maknanya harus pada orang-orang yang mereka pasti akan ditimpa azab, dan telah didahului dalam ilmu Allah, bahwasanya mereka akan mati dalam kekufuran, Allah subhanahu Wa ta'ala ingin memberi tahu bahwasanya ada di antara manusia keadaannya seperti ini tanpa menentukan orangnya.
Ibnu Abbas radhiallahu Anhu dan Al kalbi berkata, "ayat ini turun pada petinggi orang-orang Yahudi seperti: Huyai bin Akhtab, dan Ka'ab bin Al Asyraf dan sederajat dengan mereka berdua. Ar-Robi' bin Anas berkata: Tuhan pada orang yang membunuh pemimpin Al-Ahzab pada perang Badar", dan ini yang paling benar. Jika disebutkan secara individu maka itu seperti menyingkap hal yang gaib yaitu kematiannya dalam kekufuran Dan ini juga termasuk dalam ayat ini.
Pendapat saya, Ibnu Katsir memiliki pandangan sama dengan Al Qurthubi dalam menguatkan pendapat ini (1/85).

Diriwayatkan dari Ar-Robi' bin Anas berkata, "Dua ayat turun pada perang al-Ahzab, "sesungguhnya orang-orang kafir," tinggal firman Allah "dan bagi mereka siksa yang amat berat".*

*Lihat tafsir Ibnu Katsir (1/85), dan al-Wahidi berkata dalam kitab "asbab an-nuzul" halaman 26, Adh-Dhahak berkata, "Ayat ini turun pada Abu Jahal dan 5 orang dari keluarganya". 
Aku katakan riwayat ini dhaif karena perawinya terdapat Ibn Ishaq, ia Shaduq, mudallis, me-Murshal-kan hadits, dituduh sebagai seorang Syiah dan Al Qodariyah di dalam At-Taqrib, halaman 467.

Penutup
Demikian pembahasan tentang Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 6. Semoga bermanfaat.

Sumber: Imam Suyuthi, Asbabun Nuzul: Sebab-sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an, 4-5.

Asbabun Nuzul Surat Al-Fatihah Ayat 1-7


asbabun nuzul surat al fatihah, asbabun nuzul surat al fatihah ayat 4, asbabun nuzul surat al fatihah singkat, makalah asbabun nuzul surat al fatihah, asbabun nuzul surat al fatihah brainly, asbabun nuzul surat al fatihah pdf, asbabun nuzul surat al fatihah ayat 4, makalah asbabun nuzul surat al fatihah, sejarah turunnya surat al fatihah, kandungan surat al fatihah, surat al fatihah diturunkan melalui perantara malaikat
Asbabun Nuzul Surat Al-Fatihah Ayat 1-7

Asbabun Nuzul Surat Al-Fatihah Ayat 1-7 - Tidak ada riwayat atau pendapat ulama yang menyebutkan tentang sebab turun surah al-Faatihah. Imam as-Suyuthi sendiri tidak menyinggung sama sekali tentang surah al-Faatihah di dalam buku ini. Namun agar seluruh surah Al-Qur'an masuk dalam pembahasan, (penerjemah) melihat perlu untuk membubuhkan sedikit tentang surah al-Faatihah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 1)


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ 
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 2)


الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ 
"Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 3)


مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۗ 
"Pemilik hari pembalasan."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 4)


اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ ۗ 
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)


اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ 
"Tunjukilah kami jalan yang lurus,"
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)


صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

Nama lain dari Surat Al-Fatihah

Diantara nama lain dari surat Al Fatihah adalah sebagai berikut.

1. Ummul Kitaab. 

Penamaan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi (dan dia menshahihkannya) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, 

الحمد لله ام القرأن وام الكتاب والسبع المثانى

"Alhamdulillah adalah ummul Qur'an, Ummul Kitab dan as-Sabu'ul Matsaani."

2. Ash-Shalat. 

Penamaan ini berdasarkan firman Allah ta'ala dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. Yang di antara isinya adalah, 

قال الله تعالى: قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل

"Allah ta'ala berfirman, 'Aku membagi shalat menjadi dua, untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan Aku berikan kepada hamba-Ku apa yang dia minta."

Para ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan shalat di sini adalah surah al-Faatihah, karena shalat tidak sempurna tanpa membaca surah al-Faatihah. 

3. Asy-Syifaa '

Penamaan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan ad-Darimi dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Nabi saw. bersabda, 

فاتحة الكتاب شفاء من كل داء

"Pembuka (Fatihah) Al-Kitab adalah obat bagi semua penyakit."

4. Ar-Ruqyah

Penamaan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang mengobati seseorang yang disengat binatang berbisa dengan membacakan surah al-Faatihah terhadapnya, 

وما يدريك أنها رقية؟

"Bagaimana engkau tahu bahwa surat al-fatihah adalah ruqyah (obat)?"

Keutamaan Surah al-Faatihah 


Surah al-Faatihah mempunyai beberapa keu tamaan. Di antara keutamaannya adalah sebagai berikut. 

1. Surat yang Paling Agung di Dalam Al-Qur'an 

Al-Bukhari, Abu Dawud dan an-Nasa“ : meriwayatkan dari Abu Sa'id Ibnul-Mu'alla dia berkata, ”Pada suatu hari saya sedang shalat di masjid, lalu Rasulullah memanggil saya dan saya tidak menjawab panggilan beliau. Setelah selesai shalat, saya berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, tadi saya shalat.’ Rasulullah bersabda, 'Bukankah Allah berfirman, 'Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,...” (al-Anfaal: 24) 

Kemudian beliau bersabda, 

لأعلمنك سورة هي أعظم السور في القرأن قبل أن تخرج من المسجد

"Saya akan mengajarkan kepada mu sebuah surat yang teragung di dalam Alquran sebelum engkau keluar dari masjid."

Kemudian beliau menggandeng tangan saya. Ketika beliau ingin keluar dari masjid, saya katakan kepada beliau, ”Wahai Rasulullah bukankah engkau katakan bahwa engkau akan mengajarkan kepadaku surah teragung di dalam Al-Qur'an?' 

Maka beliau menjawab, 

الحمد لله رب العالمين هي السبع المثانى والقرأن العظيم الذي أوتيته

"(Ia adalah surat), 'Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Ia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang (dalam setiap rakaat) dan Al-Qur'an yang qgung yang diberikan kepada saya."

2. Surat yang paling Utama di dalam Al-Qur'an

An-Nasa'i dalam as-Sunan al-Kubra, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, ”Pada suatu hari Rasulullah dalam perjalanan. Kemudian beliau berhenti dan turun dari tunggangan beliau. Lalu seseorang turun dari tunggangannya juga untuk mendampingi beliau. Kemudian beliau bersabda, 

ألا أخبرك بأفضل القرأن ؟

"Maukah engkau saya beritahu surah yang paling utama di dalam Alquran?"
Lalu beliau membaca,

الحمد لله رب العالمين
"Segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam."

3. Surat Al-Faatihah adalah munajat antara hamba dan Rabbnya

Muslim, Abu Dawud, at-Trrmdzi, an-Nasa‘i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, 

من صلى صلاة لم يقرأ فيها بأم القرأن فهي خداج

"Barangsiapa melakukan salat tanpa membaca al-fatihah, maka salatnya tidak sempurna."

Beliau mengurangi sabda tersebut sebanyak 3 kali.

Demikian Penjelasan tentang Asbabun Nuzul Surat Al-Fatihah Ayat 1-7, semoga dapat menjadi rujukan dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Sumber: Asbabun Nuzul; Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an, Jalaluddin As-Suyuthi, 19-23.